Hari ini aku membuka laptop ku dimalam hari. Setelah mengisi pulsa MoDem ku yang tidak berfungsi selama 1 hari ini. Tapi MoDem ini hanya berlaku 4 hari saja. Namanya juga Rp. 10000;-.
Ketika membuka internet lalu aku membuka Gmail ku untuk mengirik ulang karya adik angkat ku yang mengikuti lomba jurnallistik. Nah setelah berhasil ku kirim lalu aku membuka facebook ku dan ku lihat pemberitahuan nya. Ternyata lumayan banyak sekitar 60 an itu baru 1 hari ku tinggal. hehehe.
Tanpa sengaja ku bermain di FAM dan ku temukan Karya Puisi ku di Ulas Oleh FAM. Senang nya. puisi yang ku tunggu di ulas kini muncul.
nih hasil ulasan nya.
ULASAN PUISI “KEKAGUMAN” KARYA AHMAD SAADILAH (FAM PEKANBARU)
Sahabat FAM, hari ini Tim FAM Indonesia mengulas sebuah puisi berjudul “Kekaguman” karya Ahmad Saadilah, anggota FAM Indonesia yang berdomisili di Pekanbaru, Provinsi Riau.
Membaca sebuah karya puisi juga membaca alam ciptaan Sang Khalik. Matahari, bulan, udara dan kisah suka dukanya seperti yang ditulis pada puisi ‘Kekaguman’ ini melukiskan apa adanya yang patut disyukuri ciptaan Sang Maha Pencipta.
Sebagai pembuka puisi ‘Kekaguman’ mari kita simak makna kata-katanya yang benar-benar mengagumkan:
Terbitnya mentari menghadirkan warna
Selembut embun pagi dengan sejuknya
Merangkai kata seindah mutiara
Yang tersimpan dalam telaga
Dari baris kata-kata yang dipilihnya memberi makna yang dalam. Baris ‘yang tersimpan dalam telaga’ memiliki konotasi arti dalam tentang telaga, menyimpan mutiara sebuah benda yang dikagumi kaum hawa. Penafsiran baris ‘yang tersimpan dalam telaga’ akan punya makna yang lain, bila dihubungkan dengan kasus lumpur Lapindo di Sidoarjo Jawa Timur, ada sebuah telaga lumpur yang sangat menghebohkan masyarakat di sekitarnya.
Mari kita masuk dalam baris-baris puisi ‘Kekaguman’ yang ditulis penyairnya dengan untaian kata sbb:
Ketika hirupan udara masuk kedalam dada
Ketika ingatan mengali memori
Ketika hati terjatuh olehnya
Ketika rindu menyesak didada
Dan sebagai penutup puisi ‘Kekaguman’ ternyata hanya bayangan belaka, bukan realita yang terjadi hanya sebuah pemikiran sang penyair:
Alangkah indah membayangkannya
Seakan langit tak beratap
Mencairkan hati yang terluka
Merebahkan dalam sandaran ketika menatapnya
Tipografi dan pemilihan huruf kecil yang dibuat penulis dalam menulis puisi punya makna arti, perlu dipahami. Meski secara keseluruhan membaca puisi ‘Kekaguman’ punya makna yang luas adanya. Proses kreatif yang terus dijaga dalam menulis puisi.
Koreksi penulisan:
“Terbit nya”, seharusnya “Terbitnya”
“kedalam”, seharusnya “ke dalam”
“didada”, seharusnya “di dada”
“membayangkan nya”, seharusnya “membayangkannya”
“menatap nya”, seharusnya “menatapnya”
Teruslah berproses. Sebab proseslah yang akan menentukan hasil.
Salam santun, salam karya.
FAM INDONESIA
www.famindonesia.blogspot.com
[BERIKUT PUISI PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]
Kekaguman
Oleh Ahmad Saadilah
IDFAM974M, Anggota FAM Pekanbaru
Terbit nya mentari menghadirkan warna
Selembut embun pagi dengan sejuknya
Merangkai kata seindah mutiara
Yang tersimpan dalam telaga
Ketika hirupan udara masuk kedalam dada
Ketika ingatan mengali memori
Ketika hati terjatuh olehnya
Ketika rindu menyesak didada
Alangkah indah membayangkan nya
Seakan langit tak beratap
Mencairkan hati yang terluka
Merebahkan dalam sandaran ketika menatap nya
[sumber: www.famindonesia.blogspot.com]
Ket: Gambar sekadar ilustrasi yang bersumber dari Google.com

