Rinai
hujan semakin deras membumbui gelapnya langit, menyalakan flash yang membuat
mata berkedip. Memanjakan pohon hijau yang bergerak melambaikan ranting-ranting
tersipu angin sepoi-sepoi.
Siang hari terasa seperti malam larut panjang untuk
istirahat setiap mereka yang merasa letih lelah, jalanan yang sunyi membuat
Fitri harus berteduh di sebuah
halte bersama dengan teman yang bernama Ima.
Becek
nya jalan memilih untuk bermuara di depan halte yang konon katanya mempunyai
misteri yang anker. Begitulah mereka menyebutnya, cerita anak sekolahan yang
sulit dipercaya setiap orang-orang yang berteduh di sana. Rinai semakin deras
hingga melewatkan waktu yang dinanti mereka untuk pulang kerumah karena
jemputan yang biasanya tak kunjung datang.
Srappp…
“Aaaaaaaaa.” Pekik mereka terkejut ketika sebuah mobil datang dari arah yang tak di duga hingga membuat muara becek menyambar mereka berdua yang berteduh.
“Dasar nih orang punya mobil. Nggak punya sopan santun, main laju saja. Nggak tau apa ada lobang di situ, awas kalo ketemu orang nya. Bakalan ku tonjokin tuh orang.” Ucap Fitri yang kesal dengan mengepalkan tangan nya karena baju putih dan wajah nya penuh dengan seni lumpur dari muara becek.
“Aaaaaaaaa.” Pekik mereka terkejut ketika sebuah mobil datang dari arah yang tak di duga hingga membuat muara becek menyambar mereka berdua yang berteduh.
“Dasar nih orang punya mobil. Nggak punya sopan santun, main laju saja. Nggak tau apa ada lobang di situ, awas kalo ketemu orang nya. Bakalan ku tonjokin tuh orang.” Ucap Fitri yang kesal dengan mengepalkan tangan nya karena baju putih dan wajah nya penuh dengan seni lumpur dari muara becek.
“Wajah
mu cantik Fit.” Ucap Ima yang terkena tidak separah Fitri. Ima memuji fitri
dengan tertawa kecil
Hujan semakin lama semakin deras hingga reda pun tiba.
Tapi Fitri nggak mau pulang, dia memaksa Ima untuk pergi ke taman.
“Lihat
bunga ini Ma, cantik dan harum nya, hmhmhmmh. Boleh dipetik nggak ya Ma?” Ucap
Fitri sambil memegang bunga yang masih tertancap rapi di pot nya.
“Cabut aja.” Ucap Ima
“Cabut aja.” Ucap Ima
Gubrakkkkkk….
“Aduh” Ucap Fitri
“Aduh” Ucap Fitri
“Maaf, aku nggak sengaja.” Ucap Fitri berdiri
menuju cowok yang ia tabrak itu untuk mengambil bunga mawar yang
terjatuh tak jauh dari nya.
“Enak
aja minta maaf, emangnya kata maaf bisa merubah nih baju jadi bersih?” Ucap nya
“Tapi aku kan nggak sengaja.”
“Tapi aku kan nggak sengaja.”
“Makan
nih maaf!” Ucap cowok itu kesal dan marah sambil memijak bunga mawar yang
terjatuh di dekatnya lalu ia pergi tanpa memperdulikan sedikitpun ucapan Fitri
“Dasar cowok egois, mawar yang harum dan menarik menjadi rusak karena dia. Awas kalau ketemu lagi dengan ku.” Ucap Fitri yang kesal karena tingkah cowok itu.
Ima hanya bisa terdiam membisu karena kekesalan cowok itu kepada Fitri yang tak sengaja menabrak nya. Jalan-jalan nya membuat kesal Fitri dengan tingkah nya, dengan terpaksa mereka pulang, daripada ada kejadian yang lainnya lagi.
“Dasar cowok egois, mawar yang harum dan menarik menjadi rusak karena dia. Awas kalau ketemu lagi dengan ku.” Ucap Fitri yang kesal karena tingkah cowok itu.
Ima hanya bisa terdiam membisu karena kekesalan cowok itu kepada Fitri yang tak sengaja menabrak nya. Jalan-jalan nya membuat kesal Fitri dengan tingkah nya, dengan terpaksa mereka pulang, daripada ada kejadian yang lainnya lagi.
Keesokan
harinya di sekolah tempat Fitri menuntut ilmu, SMA 21 terlihat ada suatu
pemandangan yang berbeda kala itu dan membuat rasa penasarannya muncul untuk
mencoba mendekati kerumunan tersebut. Perlahan Fitri mulai menghampiri
beberapa temannya yang memang juga sedang membicarakan wajah baru yang
ditemuinya tersebut.
“Dia
murid pindahan dari sekolah favorit, keren banget ya gayanya” ujar Ima yang
baru datang.
“Keren
dari mana nya sih? Coba aku jadi pengen tengok..”
Brukk..
Tiba-tiba
sebuah lemparan bola basket yang cukup keras tepat mendarat diatas kepala
Fitri. Ia pun melirik orang yang telah menyebabkan emosinya tumpah seketika itu
juga. Ia ambil bola tersebut yang telah jatuh menjauh dari tubuhnya dan dengan
sekuat tenaga Fitri pun membalas lemparannya. Namun sial tenaganya tak sekuat
cowok itu. Fahri tersenyum sinis. Fitri pun meninggalkannya dengan rasa sakit
kepala yang masih tak mau hilang.
Saat
berada di dalam kelasnya ia terus mencoba mengingat lelaki yang dengan sekejap
telah membuat moodnya jelek.
“Bukan
kah dia cowok yang kemarin..” Fitri tiba-tiba ingat seseorang yang telah dengan
sengaja menginjak bunga yang di petiknya kemarin di taman.
Fitri merasa jengkel dan melampiaskan semua itu pada
motor nya Fahri.
Dengan secepat kilat kabar tentang celakanya
Fahri pun menyebar bak angin yang di tiup sangat kencang.
“Di
rumah sakit? Kok bisa?” Fitri heran.
“Itu
karena kamu Fit yang udah bikin dia kecelakaan!” Ima menyalahkan Fitri tanpa
mendengar penjelasannya terlebih dahulu.
“Emangnya
separah itu ya? Perasaan kemaren kan aku cuma naburin paku payung aja di ban
motornya” Ucap Fitri yang masih merasa kebingungan dan sedikit cemas.
Selama beberapa hari Ima tak mau
berbicara ataupun sekedar menyapa sahabat satu-satunya itu. Dan yang membuat
Fitri sangat jengkel adalah saat ia mengetahui Ima kini seolah berteman baik
dengan Fahri. Saat Fahri berada di rumah sakit pun Ima selalu datang
menjenguknya. Perasaan campur aduk kini bersemayam di lubuk hati Fitri. Betapa
bencinya ia saat melihat sahabat baiknya tertawa lepas bersama dengan orang
yang dianggap musuh
Istirahat
sekolah ia manfaatkan untuk menemui Fahri yang sedang berada di depan kelasnya
bersama teman-teman lelakinya.
“Punya
masalah apa sih kamu sama aku? Udah buat aku kesel karena nginjek bunga dan ngelempar
bola basket.. dan sekarang kamu mau ngambil sahabat aku?”
“Kenapa?
Takut kehilangan Ima atau...”
“Atau
apa?”
“Ada
rahasia hati dibalik batu. Hahaha” canda
Fahri tersebut malah ditanggapi serius oleh Fitri.
“Aku
nggak kan pernah suka ataupun naruh hati sama cowok nggak jelas kayak kamu!”
“Nggak
jelas gimana maksudmu Fit? Lagian juga siapa yang suka sama kamu? Aku kan udah
jadian sama sahabatmu”
Hari-hari
berikutnya Fitri jalani dengan kurang semangat. Akhirnya ia mengakui ada secuil
“rasa itu” yang terselip dalam ketidak sukaannya terhadap pria yang bernama
Fahri.
Ma, aku minta maaf ya
soal kesalahpahaman waktu itu.. selamat ya udah jadian sama Fahri. Semoga
langgeng
Setelah
memilih contac nama Ima di hapenya, Fitri pun memencet tombol send.
Ok. Besok aku tunggu
kamu di taman waktu itu.
Karena
kebetulan esok hari adalah hari minggu Fitri pun menyempatkan diri untuk
bertemu dengan Ima.
“Bener
nih kamu minta maaf sama aku? Bukan karena udah tau aku jadian sama Fahri jadi
kamu merasa kecewa dan..”
“Ya!”
ucap Fitri refleks
“Serius
Fit?” tanya Ima dengan nada tak percaya.
Ketika dua sahabat itu sedang
menyelesaikan kesalahpahamannya, tiba-tiba saja orang yang sedang
dibicarakannya datang dengan membawa seikat bunga mawar.
“Aku
pulang dulu ya, Ma” langkah kaki Fitri
terhenti seketika saat berpapasan dengan cowok yang telah menorehkan rasa
dihatinya. Dengan hitungan detik cowok itu memegang tangan Fitri seolah
menahannya untuk pergi. Mata mereka saling menatap satu sama lain.
“Woy..”
panggil Ima dengan keras namun dihiraukan begitu saja oleh Fitri dan Fahri.
Fahri
membiarkan bunga dan secarik kertas itu berada di telapak tangan Fitri lalu
pergi begitu saja bersama Ima.
Kau tahu..
Pertemuan pertama kita,
pertemuan kedua kita, sampai pertemuan kita selanjutnya yang sering kali secara
tak sengaja itu
Kau tahu..
Semua ini telah di
atur?
Ya..
Tuhan memang adil
Merencanakan sedemikian
alur yang indah bagi kita
Namun satu kesalahanku
adalah..
Aku belum bisa
mengungkapkannya secara langsung padamu.
Maafkan aku atas sikap
yang tak dewasa ini.
Ima benar-benar pusat
informasi yang penting bagiku untuk mengorek segala tentangmu
Tapi jika diberi
pilihan aku lebih baik mengenalmu dalam diam
Tak perlu kamu membalas
perasaan yang telah melekat di hati orang sepertiku
Semoga kau menerima
pengakuanku.
You dont know your
beautiful.. for me
Seperti
dugaannya selama ini, rupa nya mereka hanya berpura-pura berpacaran demi
mengetahui perasaan Fitri yang sebenarnya. Fitri tak mampu lagi
menahan segala perasaan yang juga terpendam jauh dihatinya. Ia butuh bantuan
dari Ima!
“Aku
dan dia... akan kah...???” meski telah terbongkar kalau keduanya pun menyimpan
perasaan yang sama satu sama lain tetapi pertanyaan itu tetap menggantung
seperti cerita cinta mereka. Fitri dan Fahri.
